Friday, April 15, 2011

sama beda, dua bernoda

Kalau aku bisa bertahan dari jenuhnya hari
Maka mungkin aku punya cinta
Kalau aku bisa tertawa dalam sepinya malam
Mungkin cinta itu benar ada
Kalau aku berhasil menahan semua kerinduan
Demi satu pertemuan yang entah kapan
Mungkin keajaiban itu nyata
Kalau aku mau sedikit saja mengerti dan berubah
Maka semua hanya karena cinta

Tapi tengoklah ke sini sebentar saja
Yakinkan aku bahwa cintamu bukan puisi
Lihat mataku
Sayu penuh air mata
Pergeseran persepsi tak lagi diizinkan usia
Tapi kalau aku harus mengalah
Maka ketahuilah
Semua
Hanya karena cinta

Friday, April 8, 2011

dream dream dream in noon noon noon

20 things i need the most in my future wedding!

1. The very most super important is LACE, so many many of lace, especially on the gown.
2. VEIL. while the veil is long, it must be with lace. while it's shorter, flower is nice.
3. The GROOM. Haha, the groom is behind the gown and the veil.
4. RED SHOES
5. Placed somewhere out of a building! garden is nice. BEACH is best! my house's yard is superb.
6. Small SMALL PARTY or gathering
7. While for the party, the BAND will be my #1 concern.
8. The 2nd is the PHOTOGRAPHER. Have you heard Axioo? Check this out! http://www.axioo.com/
9. FAMILY & close FRIENDS
10. A Priest, but above it is actually GOD's blessing.
11. Any FOOD which not come from sea
12. WHITE and black nuance with FLOWER everywhere
13. If i can ask, BOW TIE for my love :)
14. HOMEMADE SOUVENIR, but i promise it will be either cute or ellegant.
15. I've picked my MADE OF HONOR, can you believe?
16. TISSUE. i know i know, i don't even think i won't cry!
17. GLOVES. if my veil is long, i'll take a short gloves and vice versa.
18. A small PEARL might be pretty on me. maybe the earrings.
19. Me and my groom own WEDDING VOW
20. Each of everything covered by LOVE.

cheers!

Thursday, April 7, 2011

Dearest Mr. Stephen R. Covey,

With a great modesty, I write this, Mr. I've read your book -7 Habits. Everyone knows it's awesome! I just want to ask some -two specifically- questions to you directly, no matter you will answer or even you won't read it.

So, let me fast forward. On your book, at the very first part, you talked about paradigm, you shared your experience about the relation between you and your own son. There you said that when you change your way of thought about your son -who I believe has a special condition because you said so, then he himself step-by-step followed to change -into the way you thought about him of course. So, my first question is: until what point does we should think about something according to what we want to see about it, so we won't fall into kind of denial?

At another part, which is maybe one of the best, where you told every reader about win-win, win-loose, ........, yaaa ya that part. Here is my second question: how if in one situation or one problem, some of the parties finally yield, still it can be called a win-win?

Sincerely,
Alice Ayu

Wednesday, April 6, 2011

2 is my number if so do you

Kalau aku ini satu maka aku adalah tiada
Kalau pijakmu jengah maka aku terbang saja
Kalau aku awan dan kalau saja kamu bintang
Maka layaknya sihir, lebih baik langit melenyap
Karna lalu buat apa ada renggang di antara jariku
Buat apa dicipta hati yang luas
Kalau bukan jadi tempatmu mengadu
Karna lalu buat apa ada dua
Kalau yang ada hanya aku
Dan di sisi yang lain hanya ada kamu
Jadi di sinilah kita, di satu peraduan yang sama
Belajar tertawa, belajar menangis
Belajar mengajar, belajar mendengar
Di sinilah kita
Belajar Cinta

Monday, April 4, 2011

Reparasi Reputasi

Impian itu layaknya bui, kotak 4 x 4 yang membatasi badan, tapi justru membebaskan fantasi liar berimajinasi. Sama saja dengan impian, bukan semata-mata jemari namun kreasi yang pertama-tama berlari. Lalu di suatu waktu, keempat dinding dingin itu berubah jadi suatu arena yang biasa disebut mulut comfort zone, just somehow. Impian itu tidak lagi membelah dan membesar atau bahkan terealisasi. Impian itu hibernasi, diserang rasa takut dan tak percaya diri. Diserang sih wajar, tapi sayangnya yang ini diserang, dihantam, dan dipupuk sampai mati. Memang takut apa? Ya takut kalau si pemimpi nyatanya tidak lebih besar dari impiannya. Takut gagal dan menghancurkan reputasi. Kan belum ada tukang reparasi reputasi, selain waktu -which is biasanya bergerak super minim.

Kalau ditanya impian, gw langsung bisa jawab penulis. Tapi kalau ditanya usaha, null. Jadi harusnya dua hal itu berbanding lurus atau saling menindih atau bagaimana?

Ada ga sih orang berlesung pipit yang kepingin banget ngilangin lesung pipitnya? Kenapa? Soalnya gw mau pake jadi analogi, hehehe. Anggep aja ada dan kita sebut Mrs. LP (Lesung Pipit).

Impian juga tak jauh beda dengan lesung pipit (khusus lesung pipitnya Mrs. LP tapi). Terkadang kita terus teguh pada satu impian hanya karena kalau impian itu dilepas praktis kita akan jadi sama seperti orang pada umumnya. Saat tersenyum, kita tidak akan semanis dulu lagi saat masih berlesung pipit.

Jadi impianmu tergolong dalam kategori yang mana? Bui, lesung pipit, atau surely impian? Terus terus terus terus bermimpi, every monkey reading :) And I send a hello there!


Xo, aliceayu.