Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Wednesday, July 31, 2013

Terjebak rasa dalam kata

Terjebak aku dalam kata-kata
Terjebak kini pada realita
Tak bisa lagi ku lari
Terkunci sudah dalam hati
Beribu kata, tak sanggup bicara

Pernah suatu kali satu orang bertanya
Mengapa paksa cinta buka mata?
Mengapa tak biarkan ia buta saja?
Lalu apa kini gunanya cinta
Kalau pandang rupa, pandang segala
Seperti perusahaanku saja
Sibuk mencari pekerja harta

Tapi tahukah kalian,
Apa yang paling buatku luka?
Dikhianati.
Bukan oleh lain manusia
Tapi oleh cinta
Dipermainkannya aku
Katanya ia tak lagi suka
Tak lagi ingin bersama
Lalu selama ini apa?
Main-main sebelum lanjut usia?
Buta.

Sekarang di sinilah aku
Di penghujung rasa percaya
Tak lagi yakin akan cinta
Habis aku diperdaya
Awalnya tak percaya
Lalu dibuat percaya
Kini semua omong kosong belaka
Cinta.
Buta nyatanya.

Monday, February 25, 2013

Biru..

Biru..
Hanyutkan aku dalam senandungmu
Lamunkanku dalam duniamu
Biar ku lupa sejenak segala
Ku ingin istirahat sebentar saja
Biru..
Perdengarkan aku nyanyianmu
Bawaku ke dalam imajinasimu
Biar ku bahagia
Hilang hati perih luka
Biru..
Perlihatkan ombakmu padaku
Biar mataku terhibur
Biar sedihku ku lupa
Dan cintaku menguap ke awan sana
…………………………………………
Biru, tenggelamkah aku?

Thursday, February 7, 2013

Aku Kangen | WS Rendra

Lunglai – ganas karena bahagia dan sedih,…
indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
dan anak kita akan lahir di cakrawala.
Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.

Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
untukmu hidupku terbuka.
Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.

Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978
-WS RENDRA

Monday, January 28, 2013

Aku.

Aku ini perempuan biru
Berdada batu, bermahkota pilu
Aku tak kenal yang tak ada
Tak percaya yang tak nyata
Aku ini putri hujan
Bermandi mendung, bertakhta awan
Dalam hujan ku tulis ceritaku
Pada hujan ku teriakkan isakku
Aku dan aku..

Lalu kau datang bawa ceritamu
Kau datang bawakan cintaku

Aku ini putri raja
Berlimpah cinta, berselimut indah realita
Ternyata cinta itu ada
Aku ini perempuan hatimu
Karna di sinilah kau kan berlabuh
Aku dan kamu..

Tuesday, September 18, 2012

Ku kumpulkan laguku di tengah sepiku

Sendiri.
Ruangan ini adalah bukti bahwa aku pernah sendiri. Bukti bahwa aku pernah menangis. Bahwa aku takut akan banyak hal.
Tangis ini adalah jeritan hati. Jerit diam yang tak terbaca kelam. Isak hati karna sepi.
Takut ini adalah ragaku yang tak terbiasa tanpamu. Takut kehilanganmu. Takut sendiri.
Aku sendiri.

Jauh.
Ketika malam datang dan kau terasa jauh, aku meringkuk dalam diam ditemani gemerlap malam. Ku rasa aku menyakitimu, jauh ke dalam hatimu, lalu ku merasa jauh, hilang dan semakin jauh darimu..

Rasamu.
Ku di sini
Memandang langit
Mencoba mengingatmu
Mencoba kembali merasa
Kala itu
Kala hati mencintamu

Wednesday, August 29, 2012

Tak hanya hingar. Tak saja bingar.

Dalam diam ku temukan gerlap malam
Dalam debur ku dengar riak ombak
Dalam ria ku bahagia
Dalam hening ku berdamai dengan alam
Kala sepi ku tersenyum
Kala riuh ku mengulum

Tak hanya hingar
Tak saja bingar
Namun juga tenang
Pun jua lengang
Ku lihat rona bahagia
Ku sapa sejuk suasana

Hai malam
Hai bintang
Aku di sini
Terkagum memandang
Kau di sana
Menyapa mengundang

Hai malam
Hai bintang
Aku di sini berdiam
Kau di sana tenggelam
Aku pulang dulu
Sampai jumpa esok lagi

Friday, July 27, 2012

Surat untuk Rumah

Teruntukmu,
Rumah Jiwaku

Tahukah kau dalam setiap tinta
Tak pernah habis terucap cinta
Dalam setiap hembus,
Dalam setiap jiwa,
Dalam setiap raga.

Ketika semua asa telah tiada,
Dalammu, ia kembali terjaga.
Ketika kalah adalah pilihan,
Dalammu, ia tiada.

Ketika cinta bukanlah kata, tapi rasa.

Jarak hanya penanda, bukan fakta.
Untuk kita, ia tak nyata.

Kata mereka, rumah adalah tempat hati berada.
Jika itu benar, maka rumahku adalah kamu.

Sekarang tanya hati pada pikirku,
Jika kita, tidak ditakdirkan untuk bersama,
Maka apa itu cinta?

p.s: I know that you can write, but i dont know that good.
       taken from Think Thank FC

Monday, July 23, 2012

bicara mata, bicara rasa.

Saat kau buka mata dan yang kau lihat adalah bahagia, maka tersadarlah hati bahwa rasa tak pernah salah berkata.
Lalu saat bahagia itu begitu dalam kau rasa, sampai kau takut tuk lagi buka mata, karna kau pikir bahagia itu tak mungkin nyata.
Saat itulah kau tahu bahwa ada rasa takut di sela bahagia.
Ada rasa tak rela kalau suatu saat nanti bahagia itu mungkin habis dimakan fakta.
Ialah saat di mana kau sekali lagi buka mata. Apa kan kau rasa jika bahagia itu tak lagi di sana.
Maka kau tutup rapat mata, membayangkan ia yang kau cinta akan tetap selalu ada, mengkhayalkan waktu tuk berhenti di sini saja.
Namun pagi memaksamu membuka hari, menyambut pikuknya dunia lalu lanjut berlari.
Maka tersadarlah kau bahwa pilihan tuk berhenti bukanlah pilihan yang kau miliki, maka kau paksa matamu tuk terjaga dan kembali melihat realita.
Kembali berjalan, kembali berjuang, kembali berharap untuk suatu saat nanti ketika kau membuka mata bahagia itu kan selalu ada di sana.

Alice Ayu.

Tuesday, July 3, 2012

terbang, hinggap lalu menghilang..

Tuhan, alam, manusia
Mana mungkin kita tak saling mengenal
Mana mungkin tak menyatu
Di sini kita tinggal bersama
Melihat dunia
Memandang semesta

Tuhan, alam, manusia
Siapa bilang kita bermusuhan
Siapa bilang kita saling meniadakan
Di sini kita tinggal bersama
Menyaksikan burung
Yang terbang, hinggap lalu menghilang

Kalau Tuhan itu tak ada
Konsep alam akan menjadi terlalu sulit untuk dijelaskan
Alam dengan segala keindahannya yang absolut
Keindahan alam membuat Tuhan menjadi nyata
Lalu manusia datang, dan membuat alam menjadi hidup
Layaknya nafas bagi insan, manusia memberi alam kehidupan
Lalu mengapa kau bilang kita tak saling mengenal?

Thursday, September 22, 2011

MULUT TAK BERNAMA

Mereka punya nama

Hanya saja tak menggema

Coba saja suruh bicara

Tak kan kalah dengan Tuannya

Mendongak tak boleh mereka

Tuk berlutut lututnya tercipta

Berjarit kain, beralas tanah

Surya terbit, mereka berdarah

Maka buat apa mulutnya?

Buat apa kepalanya?

Takhta diduduki demi mendepak manusia bumi

Maka sekalian saja makamkan mayat-mayat mati

Dan kebumikan harga-harga diri

Biar puas, biar sumringah berharam jadah

Sampai suatu kala nanti

Ia kan turut mati, terkubur sendiri dibalut sepi

Thursday, August 11, 2011

Haru Menggantung Biru

Hari ini aku kelabu
Kelabu menggantung biru
Biru pun haru
Melihatku menatap rindu
Kalau kamu jadi aku
Apa kamu juga kan ragu?
Atau terus melaju maju?

Friday, April 15, 2011

sama beda, dua bernoda

Kalau aku bisa bertahan dari jenuhnya hari
Maka mungkin aku punya cinta
Kalau aku bisa tertawa dalam sepinya malam
Mungkin cinta itu benar ada
Kalau aku berhasil menahan semua kerinduan
Demi satu pertemuan yang entah kapan
Mungkin keajaiban itu nyata
Kalau aku mau sedikit saja mengerti dan berubah
Maka semua hanya karena cinta

Tapi tengoklah ke sini sebentar saja
Yakinkan aku bahwa cintamu bukan puisi
Lihat mataku
Sayu penuh air mata
Pergeseran persepsi tak lagi diizinkan usia
Tapi kalau aku harus mengalah
Maka ketahuilah
Semua
Hanya karena cinta

Wednesday, April 6, 2011

2 is my number if so do you

Kalau aku ini satu maka aku adalah tiada
Kalau pijakmu jengah maka aku terbang saja
Kalau aku awan dan kalau saja kamu bintang
Maka layaknya sihir, lebih baik langit melenyap
Karna lalu buat apa ada renggang di antara jariku
Buat apa dicipta hati yang luas
Kalau bukan jadi tempatmu mengadu
Karna lalu buat apa ada dua
Kalau yang ada hanya aku
Dan di sisi yang lain hanya ada kamu
Jadi di sinilah kita, di satu peraduan yang sama
Belajar tertawa, belajar menangis
Belajar mengajar, belajar mendengar
Di sinilah kita
Belajar Cinta

Friday, October 22, 2010

Syair Syiar

Jangan bawa lukaku terbang tinggi

Aku mau ia sembuh dulu, barulah boleh melenggang pergi

Jangan jangan paksa sedihku hilang

Biar ia tegar dulu sebelum senyum berhasil menghalang

Jangan pernah renggut sepinya hati

Nanti saja setelah ia berhasil ku obati

Jangan pula khianati rindu

Biar dulu ia merasuk, baru nanti ku depak sendu