Wednesday, July 31, 2013
Terjebak rasa dalam kata
Monday, February 25, 2013
Biru..
Hanyutkan aku dalam senandungmu
Lamunkanku dalam duniamu
Biar ku lupa sejenak segala
Ku ingin istirahat sebentar saja
Biru..
Perdengarkan aku nyanyianmu
Bawaku ke dalam imajinasimu
Biar ku bahagia
Hilang hati perih luka
Biru..
Perlihatkan ombakmu padaku
Biar mataku terhibur
Biar sedihku ku lupa
Dan cintaku menguap ke awan sana
…………………………………………
Biru, tenggelamkah aku?
Thursday, February 7, 2013
Aku Kangen | WS Rendra
indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
dan anak kita akan lahir di cakrawala.
Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.
Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
untukmu hidupku terbuka.
Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.
Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978
-WS RENDRA
Monday, January 28, 2013
Aku.
Berdada batu, bermahkota pilu
Aku tak kenal yang tak ada
Tak percaya yang tak nyata
Aku ini putri hujan
Bermandi mendung, bertakhta awan
Dalam hujan ku tulis ceritaku
Pada hujan ku teriakkan isakku
Aku dan aku..
Lalu kau datang bawa ceritamu
Kau datang bawakan cintaku
Aku ini putri raja
Berlimpah cinta, berselimut indah realita
Ternyata cinta itu ada
Aku ini perempuan hatimu
Karna di sinilah kau kan berlabuh
Aku dan kamu..
Tuesday, September 18, 2012
Ku kumpulkan laguku di tengah sepiku
Ruangan ini adalah bukti bahwa aku pernah sendiri. Bukti bahwa aku pernah menangis. Bahwa aku takut akan banyak hal.
Tangis ini adalah jeritan hati. Jerit diam yang tak terbaca kelam. Isak hati karna sepi.
Takut ini adalah ragaku yang tak terbiasa tanpamu. Takut kehilanganmu. Takut sendiri.
Aku sendiri.
Jauh.
Ketika malam datang dan kau terasa jauh, aku meringkuk dalam diam ditemani gemerlap malam. Ku rasa aku menyakitimu, jauh ke dalam hatimu, lalu ku merasa jauh, hilang dan semakin jauh darimu..
Rasamu.
Ku di sini
Memandang langit
Mencoba mengingatmu
Mencoba kembali merasa
Kala itu
Kala hati mencintamu
Wednesday, August 29, 2012
Tak hanya hingar. Tak saja bingar.
Dalam debur ku dengar riak ombak
Dalam ria ku bahagia
Dalam hening ku berdamai dengan alam
Kala sepi ku tersenyum
Kala riuh ku mengulum
Tak hanya hingar
Tak saja bingar
Namun juga tenang
Pun jua lengang
Ku lihat rona bahagia
Ku sapa sejuk suasana
Hai malam
Hai bintang
Aku di sini
Terkagum memandang
Kau di sana
Menyapa mengundang
Hai malam
Hai bintang
Aku di sini berdiam
Kau di sana tenggelam
Aku pulang dulu
Sampai jumpa esok lagi
Friday, July 27, 2012
Surat untuk Rumah
Rumah Jiwaku
Tahukah kau dalam setiap tinta
Tak pernah habis terucap cinta
Dalam setiap hembus,
Dalam setiap jiwa,
Dalam setiap raga.
Ketika semua asa telah tiada,
Dalammu, ia kembali terjaga.
Ketika kalah adalah pilihan,
Dalammu, ia tiada.
Ketika cinta bukanlah kata, tapi rasa.
Jarak hanya penanda, bukan fakta.
Untuk kita, ia tak nyata.
Kata mereka, rumah adalah tempat hati berada.
Jika itu benar, maka rumahku adalah kamu.
Sekarang tanya hati pada pikirku,
Jika kita, tidak ditakdirkan untuk bersama,
Maka apa itu cinta?
p.s: I know that you can write, but i dont know that good.
taken from Think Thank FC
Monday, July 23, 2012
bicara mata, bicara rasa.
Tuesday, July 3, 2012
terbang, hinggap lalu menghilang..
Mana mungkin kita tak saling mengenal
Mana mungkin tak menyatu
Di sini kita tinggal bersama
Melihat dunia
Memandang semesta
Tuhan, alam, manusia
Siapa bilang kita bermusuhan
Siapa bilang kita saling meniadakan
Di sini kita tinggal bersama
Menyaksikan burung
Yang terbang, hinggap lalu menghilang
Kalau Tuhan itu tak ada
Konsep alam akan menjadi terlalu sulit untuk dijelaskan
Alam dengan segala keindahannya yang absolut
Keindahan alam membuat Tuhan menjadi nyata
Lalu manusia datang, dan membuat alam menjadi hidup
Layaknya nafas bagi insan, manusia memberi alam kehidupan
Lalu mengapa kau bilang kita tak saling mengenal?
Thursday, September 22, 2011
MULUT TAK BERNAMA
Hanya saja tak menggema
Coba saja suruh bicara
Tak kan kalah dengan Tuannya
Mendongak tak boleh mereka
Tuk berlutut lututnya tercipta
Berjarit kain, beralas tanah
Surya terbit, mereka berdarah
Maka buat apa mulutnya?
Buat apa kepalanya?
Takhta diduduki demi mendepak manusia bumi
Maka sekalian saja makamkan mayat-mayat mati
Dan kebumikan harga-harga diri
Biar puas, biar sumringah berharam jadah
Sampai suatu kala nanti
Ia kan turut mati, terkubur sendiri dibalut sepi
Thursday, August 11, 2011
Haru Menggantung Biru
Kelabu menggantung biru
Biru pun haru
Melihatku menatap rindu
Kalau kamu jadi aku
Apa kamu juga kan ragu?
Atau terus melaju maju?
Friday, April 15, 2011
sama beda, dua bernoda
Maka mungkin aku punya cinta
Kalau aku bisa tertawa dalam sepinya malam
Mungkin cinta itu benar ada
Kalau aku berhasil menahan semua kerinduan
Demi satu pertemuan yang entah kapan
Mungkin keajaiban itu nyata
Kalau aku mau sedikit saja mengerti dan berubah
Maka semua hanya karena cinta
Tapi tengoklah ke sini sebentar saja
Yakinkan aku bahwa cintamu bukan puisi
Lihat mataku
Sayu penuh air mata
Pergeseran persepsi tak lagi diizinkan usia
Tapi kalau aku harus mengalah
Maka ketahuilah
Semua
Hanya karena cinta
Wednesday, April 6, 2011
2 is my number if so do you
Kalau pijakmu jengah maka aku terbang saja
Kalau aku awan dan kalau saja kamu bintang
Maka layaknya sihir, lebih baik langit melenyap
Karna lalu buat apa ada renggang di antara jariku
Buat apa dicipta hati yang luas
Kalau bukan jadi tempatmu mengadu
Karna lalu buat apa ada dua
Kalau yang ada hanya aku
Dan di sisi yang lain hanya ada kamu
Jadi di sinilah kita, di satu peraduan yang sama
Belajar tertawa, belajar menangis
Belajar mengajar, belajar mendengar
Di sinilah kita
Belajar Cinta
Friday, October 22, 2010
Syair Syiar
Jangan bawa lukaku terbang tinggi
Aku mau ia sembuh dulu, barulah boleh melenggang pergi
Jangan jangan paksa sedihku hilang
Biar ia tegar dulu sebelum senyum berhasil menghalang
Jangan pernah renggut sepinya hati
Nanti saja setelah ia berhasil ku obati
Jangan pula khianati rindu
Biar dulu ia merasuk, baru nanti ku depak sendu