Friday, February 8, 2013
Kisah Santai tentang Cinta
Wednesday, March 7, 2012
biar cinta tetap buta
Friday, July 30, 2010
Warna-warni Ceria
Kemarin aku menghabiskan kurang lebih 10 jamku di bus malam yang membawaku pulang ke rumah tercinta. Itu bukan yang pertama kali. Sudah untuk kesekian kalinya aku naik bus malam tersebut, tapi dia selalu menyajikan cerita yang berbeda. Kali ini dia menawarkan dua buah cerita cinta, dan karena aku menyaksikannya sambil mendengarkan musik dari i-pod mungil yang sebagian besar isinya adalah lagu cinta, setiap gerakan dan kejadian yang berlangsung di dalam bus pun tak ubahnya sebuah film drama romantik.
Senang melihat bentuk nyata yang namanya cinta. Salah satu penumpang bus yang sama denganku adalah seorang perempuan, lebih lagi dia adalah seorang ibu. Dia tidak sendiri, dia bersama suami dan satu orang putra kecilnya. Sewaktu masih di ruang tunggu penumpang, sebelum bus siap untuk dinaiki, aku sudah memperhatikan ibu tersebut. Dia berjilbab, sedikit gemuk, dan pasti penuh cinta, seperti ibu-ibu lainnya di seantero jagad raya. Dia sibuk memakaikan sandang kepada putranya, tampak anak laki-laki tersebut habis dimandikan. Sang Ibu dengan sabar dan terlatih memasangkan mulai dari kaos, celana panjang, jaket, sampai dengan kaos kaki ke badan anak laki-lakinya. Setelah memastikan putranya terhindar dari dingin, ia menyisir rambut anaknya. Sekarang putranya sudah rapi dan ganteng.
Berlanjut ke bus. Tepat di dua kursi sebelah kursi aku, ada seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan keduanya saling mencinta. Kalian juga pasti bisa dengan mudah melihat dua orang yang saling jatuh cinta bukan? Kalau penumpang-penumpang yang lain memilih untuk tidur, atau BB-an, atau mendengarkan musik seperti aku, mereka berdua memilih untuk terus bergenggaman tangan. Untung aku pernah mengalaminya – bedanya lokasi kejadiannya bukan bus, melainkan kereta –, kalau tidak aku pasti sudah didera rasa iri berlebihan!
Cinta, dalam jenis apa pun, selalu penuh warna-warni ceria.
Friday, July 16, 2010
Cinta saja cukup?
Kalau ada satu kata yang bisa digunakan untuk mengungkapkan banyak hal, karena memang dia mempunyai banyak arti, pasti adalah kata cinta. Persahabatan; abstrak; gairah; pengorbanan; kecewa; cemburu; takut kehilangan; keluarga; Tuhan; kebersamaan; mengalah; pengertian; harapan; doa; tawa canda. Semuanya ada, satu paket dalam cinta.
Siapa yang pernah tahu definisi cinta? Apakah saat pagi hari kita bangun dan tanpa sengaja memikirkan seseorang, itu cinta? Atau saat kita begitu perduli dan ingin tahu akan keadaan seseorang atau sedang di mana dan sedang apa seseorang tersebut, lantas itu cinta? Ataukah saat kita sangat nyaman memperbincangkan apa pun – mulai dari buku sejarah, film, musik, atau sebut saja seni, sampai dengan cinta itu sendiri – dengan seseorang, itukah cinta? Bagaimana dengan saat kita bisa tertawa lepas hanya dengan melihat seseorang itu menguap dan menggeliat layaknya anak kecil, bisakah kita sebut itu cinta? Saya sedang dalam usaha saya menguantifikasikan cinta, mengukur, dan mendefinisikannya. Sampai laki-laki di samping saya bisa dengan yakin menamai semua yang saya sebut di atas itu benar cinta.
Tidak perlu lagi “kenapa” dan “gimana” untuk cinta, hanya perlu “rasa” dan “percaya”. Sama untuk Tuhan, tidak pernah ada bukti ilmiah, tapi kita percaya, dan semuanya baik-baik saja. Sejak ada laki-laki itu, saya rasa cinta saja cukup.
Dedicated to Christian Wibisono,
Terima kasih untuk obrolan-obrolan berkualitas setelah
makan siang, makan malam; saat jam-jam menganggur
setelah penulis pulang kuliah; malam-malam sebelum
kita berangkat tidur; dan waktu-waktu yang lain.
Monday, July 12, 2010
Hujan, Cinta, dan Kamu
Saya suka hujan. Waktu hujan saya tidak perlu mencari alasan untuk bisa sendiri. Hujan adalah saat untuk saya dan pemikiran-pemikiran saya, saya dan impian-impian serta mimpi-mimpi saya. Hujan adalah waktu untuk saya mengkhayalkan kamu. Hujan adalah waktu untuk saya mengkhayalkan kamu sedang bersama Fabian dan Refa. Saya sayang kalian bertiga bahkan sebelum kedua yang terakhir ada. Hujan adalah saatnya bagi saya merancang gaun pengantin putih saya, ruang tidur utama rumah saya, dan mungkin nama ke tiga untuk calon anak ke tiga saya. Kamu punya ide?
Tapi akhir-akhir ini saya sedikit marah pada hujan. Dia mencegah kamu menemui saya.
Apa kamu tahu hujan juga punya bau? Baunya menenangkan. Saya rindu bau kamu. Apa kamu tahu bau hujan bercampur tanah jauh lebih menenangkan? Saya rindu bau kamu campur bau saya. Rasanya seperti berkubang dalam ketenangan.
Saya paling suka tidur dipeluk hujan. Saya benci kalau sebelum jauh tertidur, hujan sudah berhenti. Rasanya sama seperti saat jam kunjung memaksa kamu pulang sebelum saya sempat mencari punggung lain untuk dilihat.
Apa kamu sadar? Hujan jadi mirip kamu. Apa Tuhan sengaja membuat hujan jadi mirip kamu? Mungkin untuk menenangkan saya yang selalu rindu kamu.
Orang-orang bilang mereka tidak suka hujan karena semua hal dan kegiatan jadi terhambat. Bukankah itu bagus? Saya suka kalau kamu tetap di sini dan waktu bergerak lambat.
Hujan itu sejuk. Seperti cerita-cerita, keluhan-keluhan, nasihat-nasihat yang kamu bawa untuk saya, semuanya dapat membantu saya mendinginkan hari. Jadi teruslah bercerita. Kalau ada orang lain atau bahkan diri kamu sendiri menganggap cerita kamu aneh, percayalah itu bukan saya.
Waktu saya masih kecil, saya sering bermain hujan. Mama tidak pernah melarang saya bermain hujan, asal setelah itu saya mandi sampai bersih dan wangi. Bermain hujan itu asyik. Bermain hujan tidak membuat saya demam karena saya tahu kapan waktunya berhenti dan mandi. Bermain hati dengan kamu lebih asyik daripada bermain air dengan hujan. Tapi bermain hati dengan kamu lebih berbahaya. Sampai sekarang saya tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk berhenti. Lebih dari itu, saya tidak tahu apakah saya perlu berhenti dan bermain lagi lain hari, atau saya harus terus bermain dan mengambil resiko sakit hati. Sakit hati pasti lebih sakit daripada sakit demam. Satu lagi bedanya bermain dengan hujan dan bermain dengan kamu, dalam permainan dengan kamu saya tidak lagi mendengarkan nasihat mama.
Hujan membawa rejeki bagi anak-anak kecil yang dipaksa dunia untuk jadi tukang ojek payung. Sementara kamu membawa banyak harapan bagi saya yang sempat dipaksa dunia untuk jadi penakut.
Banyak alat bisa digunakan untuk menghindari hujan. Tapi saya tidak pernah menemukan cara untuk menghindari kamu.
Banyak juga sarana dan prasarana untuk menolak hujan. Coba beritahu saya cara menolak cinta, atau cara menolak kamu.
Hujan jadi tidak terlalu mirip lagi dengan kamu.
Beberapa orang berpendapat hujan itu romantis. Saya sendiri sependapat. Kamu, dengan cara kamu sendiri, cukup romantis.
Saya tidak tahu mana yang lebih banyak, mereka yang suka dengan hujan seperti saya, atau mereka yang merasa terganggu olehnya. Tapi saya yakin, mereka semua suka dengan pelangi yang muncul setelah hujan reda. Dan itulah yang bisa selalu saya syukuri, bahwa pasti ada sesuatu yang indah di balik genggaman tangan kita.